Skip to content

Tafsir Al Qur’an

April 4, 2010

Tafsir Al Qur’an
Judul asli: Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan
Penulis: Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di -rahimahulloh-
Fisik: Buku ukuran sedang p= 24cm, hardcover
Penerbit: Pustaka Sahifa
Harga: baru cetak 3 jilid dengan rincian :
jilid 1 Rp 95.000, Jilid 2 Rp 90.000, Jilid 3 Rp 97.000
Pemesanan: 0817 250 686

Allah menurunkan Al Qur’an  kepada NabiNya, Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam-  dengan bahasa Arab yang jelas, Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
“Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril alaihissalam). Ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas.” (Asy-Syu’ara: 192-195).
Lalu beliau -Sholallahu Alaihi Wassalam-  menyampaikan al-Qur’an itu kepada manusia dengan penyampaian yang benar dan tidaklah Allah mewafatkan beliau kecuali setelah beliau telah menyampaikan dan menjelaskan segala apa yang diturunkan kepadanya dalam kitab tersebut sebagaimana firmanNya,
” Dan Kami turunkan kepadamu ( wahai Muhammad) Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” [ An Nahl : 44]
” Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” [An Nahl 64]
Imam Al Mufassir Ibnu Jarir Ath Thabari -rahimahulloh-  berkata dalam menafsirkan ayat ini “Allah yang tinggi penyebutan-Nya berfirman kepada NabiNya, Muhammad , dan tidaklah Kami turunkan kepadamu kitab Kami, dan Kami utus kamu sebagai Rasul kepada makhluk Kami kecuali hanya agar kamu menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan padanya dari agama Allah”.
Dan telah jelas sekali sesuatu yang menunjukkan bahwasanya para sahabat -Rodliallahu Anhum-  telah menerima dari Rasulullah tafsiran al-Qur’an, di mana seseorang dari mereka apabila mempelajari sepuluh ayat darinya, ia tidak akan berpindah kepada ayat lain kecuali setelah memahami maknanya dan mengamalkannya.
Abu Abdurrahman as-Sulami -rahimahulloh- berkata [ia merupakan pembesar Tabi’in], “Telah meriwayatkan kepada kami orang-orang yang telah membacakan kepada kami bahwasanya mereka meminta agar dibacakan al-Qur’an oleh Nabi dan bila mereka mempelajari sepuluh ayat mereka tidak akan meninggalkannya hingga mereka mengamalkan isinya maka kami pun mempelajari al-Qur’an dan mengamalkannya secara keseluruhan.”
Dan para sahabat -Rodliallahu Anhum-  itu bila ada suatu kemusykilan/ketidakfahaman yang mereka dapatkan, mereka bertanya kepada Nabi , seperti ketika turun firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  ,
“Orang-orang yang  beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman.”   (Al-An’am: 82)
Maka para sahabat Rasulullah berkata, “Siapakah di antara kami yang tidak menzhalimi dirinya sendiri?” Beliau bersabda,”Tidaklah seperti apa yang kalian katakan, ‘Dan mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman ‘maksudnya adalah dengan kesyirikan.” [ Al Bukhari no 3360 dan Muslim 2462]
Kemudian yang menjelaskan dan menafsirkannya setelah Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- yang merupakan sebaik-baik manusia dalam penjelasan-nya dan paling jujur keimanannya dan paling dalam keilmuannya adalah para sahabat (yaitu orang-orang yang dengan mereka tegak-lah al-Qur’an itu, dan dengannya mereka bergerak, dengan mereka al-Qur’an berbicara, dan dengannya mereka berkata, orang-orang yang dianugerahkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  keilmuan dan hikmah yang merupakan keistimewaan mereka terhadap seluruh pengikut para Nabi.
Mereka itulah para sahabatnya -Rodliallahu Anhum- , yang dipilih oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  di antara seluruh makhluk agar menemani Nabi-Nya  selama dua puluh tiga tahun, dan al-Qur’an turun kepada mereka dengan bahasa mereka sendiri yang mereka hidup dengannya maka mereka membelanya dan mengamalkannya.
Dan ahli tafsir yang paling terkenal di antara mereka adalah para khalifah ar-Rasyidun, Ubay bin. Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin az-Zubair -Rodliallahu Anhum–

Dan yang paling terkenal riwayatnya dalam tafsir adalah Abdullah bin Mas’ud -Rodliallahu Anhu-  yang berkata tentang dirinya, “Demi Allah yang tidak ada Ilah yang berhak disembah selain diri-Nya, tidaklah satu surat yang diturunkan dari kitabullah, kecuali saya yang paling tahu di mana ia diturunkan, dan tidaklah satu ayat diturunkan dari kitabullah, kecuali saya paling tahu tentang pembahasan yang diturunkan, dan apabila saya mengetahui seseorang yang lebih menge-tahui dariku tentang kitabullah di mana unta mampu sampai kepa-danya, pastilah saya akan menungganginya kepadanya.”
Dan Abdullah bin Abbas -Rodliallahu Anhu- adalah ahli tafsir al-Qur’an yang telah didoakan oleh Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam-  seraya berkata,
“Ya Allah! pahamkanlah ia dalam agama, dan ajarkanlah ia tafsir”
Ibnu Mas’ud -Rodliallahu Anhu- berkata tentangnya, “Sebaik-baik ahli tafsir al-Qur’an adalah Ibnu Abbas .”
Kemudian tafsir ini setelah para sahabat dilanjutkan oleh para Tabi’in, khususnya para sahabat Abdullah bin Abbas -Rodliallahu Anhu-  di Makkah seperti Mujahid, Said bin Jabir dan semisal mereka -rahimahumulloh- . Mujahid berkata, “Saya ajukan sebuah rnushaf kepada Ibnu Abbas  dengan tiga kali pengajuan dari pembukaannya hingga penutupnya dan saya menghentikan pada setiap ayat darinya lalu saya menanyakan tentang ayat itu kepadanya”. Oleh karena itu, ats-Tsauri berkata, ‘Apabila kamu mendapatkan tafsir dari Mujahid, maka cukuplah bagimu.”
Syaikh Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- berkata, “Oleh karena itulah yang bersandar kepada tafsirnya adalah asy-Syafi’i dan Bukhari serta selain mereka berdua dari para ulama, demikian juga Imam Ahmad dan lain-lainnya dari orang-orang yang mengarang tafsir selalu mengulang-ulang jalan dari Mujahid lebih banyak dari jalan selainnya.”
Demikian juga para sahabat Abdullah bin Mas’ud  -Rodliallahu Anhu- seperti Alqamah, Masruq dan semisal mereka -rahimahumulloh- , Ibnu Mas’ud  berkata, “Tidaklah saya membaca sesuatu dan tidak pula saya mengetahui-nya kecuali Alqamah membacanya dan mengetahuinya.”
Dan al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahulloh- memiliki perincian yang memadai yang tidak mungkin dapat ditinggalkan oleh seorang yang membaca buku-buku tafsir agar mengetahui isnad-isnad yang paling populer yang diriwayatkan dari para Tabi’in dan orang-orang setelahnya, beliau menjelaskan dalamnya kondisi orang yang meriwayatkan tafsir dari para Tabi’in dan orang-orang setelahnya.
Maksudnya adalah kita dapat mengetahui bahwasanya para sahabat  dan Tabi’in telah menafsirkan al-Qur’an, mereka telah menjelaskan lafazh beserta makna-maknanya, maka kewajiban kita adalah mereferensikan perkataan mereka apabila kita tidak mendapatkan suatu tafsir dari al-Qur’an atau Sunnah. Adapun perselisihan yang terjadi di antara mereka dalam hal ini sangat sedikit sekali, bahkan jarang terjadi, dan sebagian besar perselisihan yang ada di antara mereka itu adalah perselisihan bentuk dan bukan perselisihan yang saling bertentangan, hal ini sebagaimana disebutkan dan dijelaskan oleh syaikh Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh-  pada “Muqaddimah at-Tafsir”.
Kemudian para ulama memfokuskan perhatiannya kepada kompilasi agar dapat mengumpulkan tafsir-tafsir para sahabat  adapun para Tabi’in yang bersandar kepada mereka seperti Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, dan Abd bin Humad. Ibnu Hajar berkata, “Tafsir-tafsir yang empat ini sedikit sekali ada sesuatu yang menyimpang dalam tafsir yang marfu’ dan mauquf pada para sahabat  dan maqthu’ dari para Tabi’in.”
Kemudian berturut-turutlah setelah itu para ulama mengarang tafsir dengan perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka dalam madzhab-madzhab mereka, akidah-akidah mereka, dan perhatian ilmiah mereka. Dan di antara mereka yang mengarang dalam bidang itu adalah Abu Muhammad bin al-Husain al-Baghawi yang meninggal pada tahun 516 H, Abu al-Faraj Abdurrahman bin al-Jauzi yang meninggal pada tahun 596 H, Abu Abdullah Muhammad bin Umar ar-Razi yang meninggal pada tahun 606 H, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi yang meninggal pada tahun 671 H, Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf bin Hayyan an-Nahwi al-Andalusi yang meninggal pada tahun 745 H, al-Hafizh Imaduddin Abu al-Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir yang meninggal pada tahun 774 H, Abdurrahman ats-Tsa’alabi yang meninggal pada tahun 876 H, Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi yang meninggal pada tahun 911 H, Muhammad bin Ali asy-Syaukani yang meninggal pada tahun 1250 H, Mahmud Syihabuddin al-Alusi yang meninggal pada tahun 1270 H, Muhammad Jamaluddin al-Qasimi yang meninggal pada tahun 1332 H, Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar al-Jakni asy-Syinqithi yang meninggal pada tahun 1393 H, dan lain sebagainya dari para ulama kaum muslimin yang telah menulis dalam ilmu tafsir.

Dan di antara karangan-karangan dalam bidang tafsir yang diakui dan dipuji oleh para ulama pada zaman sekarang ini, memperoleh ketenaran yang begitu luas dan ditakdirkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala mendapatkan tempat yang cukup baik dalam hati kaum muslimin yaitu tafsir syaikh al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di yang meninggal pada tahun 1376 H, hal ini disebabkan karena keistimewaan bukunya tersebut dalam beberapa hal:
Pertama: Kesungguhan penulis dalam membuat tafsirannya ringkas hanya sebatas makna global, di mana mayoritas penafsir al-Qur’an itu tidak lepas membahas secara panjang lebar bahkan hingga menyimpang dari topik tafsirannya dari kitabullah, atau mereka membatasi diri membahas makna-makna bahasa atau fiqhiyah saja, maka beliau menghendaki dalam tafsirannya itu untuk membahas makna yang dimaksudkan oleh ayat sedangkan lafazhnya hanya sebagai jembatan baginya agar manusia dapat mengetahui makna firman Allah hingga mereka dapat mengambil petunjuk dari pengetahuan tentangnya, dan berakhlak dengan akhlaknya dan adab-adabnya dengan memakai metode yang paling mendekati.
Kedua: Pilihan-pilihan syaikh yang dihasilkan oleh kecerdikan akalnya, kejernihan hatinya, kecepatan pikirannya terhadap perkataan-perkataan para salaf dari para sahabat ,para tabi’in dan para ulama umat yang disebutkan dalam tafsir, sehingga beliau seolah-olah mengumpulkan perkataan dan pendapat yang muncul dalam tafsir makna ayat kemudian beliau mengungkapkannya dengan gaya bahasa yang telah diketahui.
Ketiga: Tafsir beliau diistimewakan juga dengan kata-katanya yang sederhana dan penjelasannya yang mudah dimengerti, yang tidak dipaksa-paksakan dan tidak ruwet, juga tidak bertele-tele dan memanjang-manjangkan, yaitu dengan suatu gaya yang dapat di-pahami oleh orang yang berilmu maupun yang tidak.
Keempat: Penyusunan kalimat yang begitu rapi dan mengaitkan suatu kalimat dengan kalimat yang lain yang sesuai tanpa ada kesusahan dalam merangkai ungkapannya, dan inilah suatu hal yang paling menonjol dari tafsir beliau
Kelima: Buku ini mengandung banyak faedah ilmiah dan pendidikan yang disarikan dari kitabullah yang dijelaskan oleh penulis di sela-sela pembahasannya terhadap tafsir ayat, faedah-faedah itu sangatlah beragam baik dari segi tauhid, fikih, sirah, nasihat-nasihat, akhlak dan lain-lainnya.
Keenam: Inilah keistimewaan yang terpenting adalah terhindarnya buku tafsir ini dari takwil-takwil yang keliru, hawa nafsu, bid’ah, dan Israiliyat.- Pengarangnya bersandar dari teks-teks al-Qur’an dan as-Sunnah, dan beliau juga mengikuti riwayat-riwayat yang disebutkan dari as-Salaf ash-Shalih.
Syaikh al Utsaimin -rahimahulloh- berkata “sesungguhnya tafsir syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di  yang berjudul “Taisir al-Karim ar-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan”, adalah sebaik-baik tafsir, karena memiliki keistimewaan yang banyak; di antaranya adalah gaya bahasa yang sederhana dan jelas yang dapat langsung dimengerti oleh orang yang berilmu maupun yang bodoh. Keistimewaan lainnya adalah menghindari kalimat-kalimat sisipan dan bertele-tele yang tidak ada manfaatnya kecuali hanya akan membuang-buang waktu pembaca dan membingungkan pikirannya. Yang lainnya adalah menghindari penyebutan perselisihan pendapat kecuali perselisihan vang mendasar yang harus disebutkan, dan yang terakhir ini adalah keistimewaan yang paling penting bagi pembaca budiman hingga pemahamannya hanya terfokus pada satu hal saja. Keistimewaan lain adalah berjalan di atas manhaj salaf pada ayat-ayat sifat yang tidak ada penyimpangan dan tidak ada takwil yang bertentangan dengan maksud Alloh Subhanahu Wa Ta’ala  dalam firmanNya, dan itulah patokan dalam pengukuhan akidah.
Keistimewaan lain adalah keterincian pengambilan kesimpulan yang ditunjukkan oleh ayat-ayat berupa faedah, hukum-hukum dan hikmah-hikmahnya, hal ini sangatlah nampak jelas dalam beberapa ayat, seperti ayat wudhu dalam surat al-Maidah, di mana ia me-ngambil kesimpulan darinya sebanyak lima puluh hikmah, sebagai-mana juga dalam kisah Daud dan Sulaiman dalam surat Shad.
Di antara keistimewaannya adalah bahwasanya buku ini adalah buku tafsir dan panduan pendidikan terhadap akhlak-akhlak yang luhur, di mana hal itu nampak jelas pada tafsir suatu ayat dalam surat al-A’raf,
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari omng-orang yang bodoh.” (Al-A’raf: 199).
Untuk itu saya ( Al Utsaimin -rahimahulloh- )  memberi saran kepada orang-orang yang hendak memiliki buku tafsir agar tidak ketinggalan untuk mengoleksi perpustakaannya dengan buku tafsir yang indah ini.”

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: